BANDUNG BARAT-GMN,- Pemerintah Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, menggelar Rembug Stunting tingkat kecamatan, Rabu (16/9/2026). Forum tersebut menjadi momentum untuk memetakan persoalan stunting sekaligus menyusun strategi penanganan berdasarkan kondisi riil di lapangan.
Camat Parongpong Agus Ganjar Hidayat mengatakan, Rembuk Stunting tidak hanya membahas angka kasus, tetapi juga menggali sumber persoalan, menentukan bentuk intervensi, serta mengidentifikasi perangkat daerah yang dapat terlibat dalam percepatan penurunan stunting.
“Tujuannya menyusun strategi ke depan berdasarkan kondisi riil di lapangan, sumber permasalahannya seperti apa, bentuk intervensinya seperti apa, dan perangkat daerah mana saja yang bisa terlibat,” ungkap Agus kepada Global Media News, saat ditemui seusai kegiatan rembug stunting.
Rembug Stunting tersebut dihadiri oleh Sekcam Parongpong Reza Gardika, Kasi PMD Parongpong Aan Kurniawan, Wakil Peserta Rembug Dadang Carmana, TAPM Pic Stunting Ujang Aliyudin, Kepala Puskesmas Dwi Mulyati, Ahli Gizi Siska Yustina, Ketua Apdesi Kecamatan Bagus H, TP – PKK Kecamatan Dinar Setiasih, UPT KB Kusmia Ratnawati, Himpaudi Wiwik Witarni, BPD keterwakilan Prp Lilis Supartini, pendamping Desa / PD Syuci Lestari, Wakapolsek Cisarua Ahmad, Karang taruna, KNPI serta unsur masyarakat lainnya.

Menurut Agus, keterlibatan serta kehadiran lintas sektor diperlukan karena persoalan stunting tidak dapat ditangani hanya melalui sektor kesehatan.
“Harapannya apa yang kita rumuskan hari ini bisa menjadi bahan masukan dan tindak lanjut bagi masyarakat. Semua perangkat daerah yang mempunyai kompetensi dalam percepatan penurunan stunting harus terlibat,” katanya.
Ia menyebut sejumlah persoalan konkret yang masih perlu mendapat perhatian di Parongpong, antara lain pernikahan usia muda, pemenuhan gizi selama kehamilan dan setelah persalinan, pemberian ASI serta makanan pendamping ASI (MPASI).
Selain itu, edukasi kepada masyarakat dinilai perlu dilakukan secara masif. Masyarakat perlu mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya mencegah pernikahan dini, menjaga kesehatan selama kehamilan, rutin memeriksakan kehamilan, serta memastikan kebutuhan gizi ibu dan anak terpenuhi.
Agus juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai unsur, mulai dari penyuluh, petugas di wilayah, lembaga kemasyarakatan hingga masyarakat dalam memberikan edukasi.
Menurutnya, persoalan stunting juga berkaitan dengan kondisi lingkungan. Ketersediaan air bersih, sanitasi, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi bagian dari intervensi yang perlu diperkuat.
“Penanganan stunting bukan hanya intervensi spesifik, tetapi juga intervensi sensitif, seperti menjaga lingkungan bersih dan sehat, memenuhi kebutuhan air bersih, menjaga sanitasi dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” jelasnya.

Pemerintah Kecamatan Parongpong menargetkan berbagai kondisi berisiko dapat ditekan secara bertahap melalui intervensi yang terukur dan dilakukan bersama-sama.
Agus berharap hasil Rembug Stunting dapat menjadi dasar bagi pemerintah desa, kecamatan, perangkat daerah dan masyarakat untuk menjalankan program secara lebih terarah.
Ia juga mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menjaga kesehatan reproduksi bagi pasangan usia subur, serta menggunakan alat kontrasepsi agar jarak kelahiran dapat diatur secara ideal.

















