BANDUNG BARAT-GMN,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menggelar Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) di Imah Roti, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin–Selasa (26–27 Oktober 2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini digelar bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai potensi gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Sekolah Lapang Gempabumi dibuka secara resmi oleh Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Daniel Mutaqien Syafiuddin. Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Bandung, Dr. Suadi Ahadi, S.T., MT.; Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu, Dr. Teguh Rahayu, S.Kom., MM.; serta Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asda I) Kabupaten Bandung Barat, Duddy Prabowo.

Hadir pula Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Barat Rega Wiguna, S.STP., M.I.P.; Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung Barat, Siti Aminah; Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat, Dadan Supardan, S.Psi.I.; serta peserta dari berbagai elemen masyarakat.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Bandung, Dr. Suadi Ahadi, mengatakan penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempabumi merupakan bagian dari upaya bersama untuk mengantisipasi potensi bencana sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait Sesar Lembang.
Menurut Suadi, kegiatan tersebut berawal dari pembahasan bersama jajaran BMKG mengenai pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap potensi gempa bumi di wilayah Bandung Raya, khususnya kawasan yang berada di sekitar Sesar Lembang.
“Target utamanya adalah agar masyarakat memahami secara utuh permasalahan terkait Sesar Lembang. Kalaupun terjadi, masyarakat mengetahui bagaimana cara mengantisipasinya,” ujarnya.
Ia menegaskan, edukasi kebencanaan diperlukan agar masyarakat tidak diliputi ketakutan berlebihan, tetapi memiliki pemahaman yang benar mengenai potensi risiko serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi dampak bencana.
Suadi menambahkan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara BMKG, pemerintah daerah, dan instansi terkait dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat diharapkan dapat meningkatkan kapasitas mitigasi bencana, baik melalui edukasi masyarakat maupun penguatan perencanaan penanggulangan bencana.
“Kita tentu tidak berharap bencana terjadi. Namun, apabila hal tersebut menjadi kenyataan, pemerintah daerah dan masyarakat dapat memitigasi bencana agar dampaknya tidak meluas,” tuturnya.
Menurut dia, kesiapsiagaan perlu didukung berbagai aspek, mulai dari penyiapan infrastruktur yang memadai, penentuan titik-titik kumpul dan lokasi pengungsian, hingga penyusunan langkah penanganan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh informasi mengenai potensi bahaya Sesar Lembang, tetapi juga memahami tindakan yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi terjadi.
Penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempabumi di Lembang ini diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam membangun masyarakat yang tangguh bencana. Peningkatan literasi kebencanaan dan sinergi antarlembaga menjadi faktor penting untuk menekan risiko serta meminimalkan dampak apabila gempa bumi terjadi.

















