BANDUNG, GMN – Di tengah dinamika kepemimpinan militer yang terus berkembang, hadir sosok inspiratif yang memadukan ketegasan prajurit dengan kelembutan nilai spiritual. Ia adalah Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M., Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) III/Siliwangi ke-47, yang kini dikenal luas sebagai “Jenderal Santri” di Tanah Siliwangi.
Lahir pada 2 April 1971 dari pasangan Ust. H. Jufran Efendi (alm) dan Hj. Siti Khadijah (almh), Kosasih tumbuh dalam kesederhanaan. Masa kecilnya diwarnai kehidupan desa di Pandeglang Banten yang penuh perjuangan, bermain di sungai, memanjat pohon, hingga membantu ekonomi keluarga dengan bekerja serabutan sejak usia muda.
Harapan orang tuanya sederhana: menjadikannya seorang ustadz. Namun takdir berkata lain. Sebuah peristiwa kecil, menyaksikan perilaku arogan seorang oknum tentara terhadap rakyat kecil, justru menjadi titik balik yang mengubah jalan hidupnya. Dalam diam, ia bertekad menjadi prajurit yang mengayomi, bukan menakuti.
Dengan keberanian dan tekad, ia mendaftar militer tanpa sepengetahuan orang tua. Langkah itu membawanya lolos hingga pendidikan Akademi Militer (AKMIL) di Magelang, membuka jalan panjang pengabdian bagi bangsa dan negara. Perjalanan pendidikan Kosasih tidak hanya ditempa di dunia militer, tetapi juga akademik.
Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi (S.E.) dan Magister Manajemen (M.M.), yang memperkuat kapasitasnya dalam pengelolaan organisasi dan pengambilan keputusan strategis.
Berbagai pendidikan militer bergengsi juga dilaluinya, mulai dari SESKOAD, SESKO TNI, hingga Lemhannas RI. Tak hanya itu, ia juga mengikuti kursus spesialis seperti komando, sniper, hingga pelatihan kontra-terorisme, yang membentuknya sebagai prajurit profesional dengan wawasan luas.
Karier Kosasih berkembang melalui berbagai jabatan penting, mulai dari satuan lapangan hingga posisi strategis di lingkungan Kementerian Pertahanan dan Istana Kepresidenan. Ia juga pernah bertugas mengawal Presiden dan Wakil Presiden RI selama bertahun-tahun.
Puncak kepercayaan negara datang saat ia diangkat sebagai Pangdam III/Siliwangi melalui keputusan Panglima TNI pada 31 Juli 2025. Jabatan ini bukan sekadar posisi struktural, tetapi amanah besar untuk menjaga stabilitas wilayah Jawa Barat dan Banten yang kompleks.
Sepanjang kariernya, Kosasih telah menjalani berbagai operasi dalam negeri seperti Timor Timur dan Papua, serta misi internasional di berbagai negara. Pengalaman global tersebut memperkaya perspektifnya dalam melihat tantangan keamanan modern yang semakin kompleks dan lintas batas.
Beragam tanda kehormatan negara pun telah ia terima, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, loyalitas, dan integritasnya selama puluhan tahun mengabdi tanpa cela.
Di balik pangkat dan jabatan tinggi, Kosasih dikenal sebagai sosok yang membumi. Latar belakang religius yang kuat membentuk gaya kepemimpinannya yang humanis, santun, dan penuh keteladanan.
Di Tanah Siliwangi yang kental dengan budaya Sunda, ia menghadirkan harmoni antara nilai militer, kearifan lokal, dan spiritualitas. Ia aktif membangun sinergi dengan ulama, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen bangsa untuk memperkuat persatuan dan ketahanan sosial.
Baginya, prajurit sejati bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki akhlak dan integritas. Prinsip inilah yang menjadikannya dijuluki “Jenderal Santri”, sebuah gelar yang lahir dari keteladanan, bukan pencitraan.
Kosasih memegang teguh prinsip bahwa jabatan adalah ibadah. Ia percaya, kepemimpinan sejati bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kehadiran figur seperti dirinya menjadi harapan baru, bahwa kekuatan militer dapat berjalan selaras dengan nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
“Jabatanku adalah ibadahku,” menjadi motto yang bukan sekadar kata, tetapi tercermin dalam setiap langkah pengabdiannya. Jejak Jenderal Santri kini nyata di Tanah Siliwangi, menjadi simbol bahwa ketegasan, keimanan, dan pengabdian dapat berjalan beriringan demi Indonesia yang lebih kuat dan bermartabat.












