Scroll kebawah untuk baca berita/artikel !
Example floating
Example floating
Example 728x250
HeadlineNASIONAL

RRI dan SMSI Perkuat Kolaborasi, Jurnalis Dituntut Adaptif di Era Digital

44
×

RRI dan SMSI Perkuat Kolaborasi, Jurnalis Dituntut Adaptif di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Istimewa.
Example 468x60

JAKARTA-GMN,- Transformasi digital membawa perubahan besar terhadap dunia jurnalistik. Jurnalis kini tidak cukup hanya memiliki kemampuan menulis berita, tetapi juga dituntut menguasai teknologi, melakukan verifikasi informasi secara ketat, hingga memahami karakter audiens di berbagai platform digital.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Diskusi Panel Pengembangan Kompetensi Jurnalistik Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) yang digelar pada 21 Agustus 2026.

Example 300x600

Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus, M.Si., menilai kolaborasi antara RRI dan ekosistem media siber menjadi langkah strategis untuk menghadapi tantangan jurnalistik di tengah derasnya arus informasi digital.

Menurutnya, sinergi media penyiaran publik dengan media siber diperlukan untuk memperkuat kualitas informasi sekaligus menjaga ruang publik dari penyebaran hoaks, disinformasi, dan informasi yang tidak terverifikasi.

Jurnalis Harus Kuasai Beragam Kompetensi

Perkembangan teknologi membuat pola kerja jurnalistik semakin dinamis. Wartawan dituntut mampu memproduksi berita dalam berbagai format, mulai dari teks, foto, audio, video hingga konten berbasis data.

Firdaus menyebut sedikitnya ada sejumlah kompetensi yang perlu terus diperkuat oleh jurnalis.

Pertama, etika jurnalistik dan Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Kompetensi tersebut menjadi landasan penting agar wartawan bekerja secara profesional, independen, berintegritas, serta tetap berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik.

Kedua, Mobile Journalism (MoJo). Kemampuan menggunakan perangkat bergerak untuk melakukan peliputan menjadi semakin penting. Wartawan dituntut mampu menghasilkan foto, audio, hingga video berita hanya dengan perangkat smartphone.

Ketiga, fact-checking atau verifikasi informasi. Di tengah maraknya informasi di media sosial, jurnalis harus memiliki kemampuan memeriksa fakta, menelusuri sumber, membaca data digital, serta memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga:  Rakernas SMSI Berlangsung Dinamis, Firdaus Kembali Terpilih Jadi Ketua Umum

Keempat, digital analytics dan GEO. Kemampuan membaca perilaku audiens dan mengoptimalkan distribusi konten menjadi bagian dari kompetensi jurnalistik modern agar berita dapat menjangkau masyarakat secara lebih efektif.

Meski demikian, Firdaus mengingatkan agar perkembangan teknologi tidak membuat prinsip dasar jurnalistik terabaikan.

“Kolaborasi RRI dan SMSI menjadi kunci penjaga kebenaran atau truth enforcer nasional,” kata Firdaus.

RRI dan SMSI Punya Kekuatan yang Saling Melengkapi

RRI memiliki posisi strategis sebagai lembaga penyiaran publik dengan jaringan yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan perbatasan. Selain radio, RRI juga terus berkembang menjadi media multiplatform.

Di sisi lain, SMSI memiliki jaringan perusahaan media siber yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Kekuatan tersebut dinilai dapat saling melengkapi dengan jaringan penyiaran publik yang dimiliki RRI.

Kolaborasi RRI dan SMSI diharapkan mampu memperluas jangkauan informasi dari daerah sekaligus meningkatkan kualitas pemberitaan mengenai pembangunan, potensi daerah, serta aspirasi masyarakat.

Dorong UKW dan Penguatan Newsroom

Dalam diskusi tersebut, Firdaus juga mendorong pengembangan kerja sama konkret antara RRI dan SMSI, salah satunya melalui penyelenggaraan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) bagi wartawan perusahaan media anggota SMSI.

Kerja sama juga dapat diarahkan pada peningkatan kapasitas penguji UKW melalui Training of Trainer (ToT) serta pembaruan materi kompetensi yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri media.

Selain peningkatan kompetensi individu wartawan, penguatan newsroom juga dinilai penting. Sinergi antarmedia diharapkan dapat menciptakan ekosistem pemberitaan yang lebih profesional, cepat, akurat, dan tetap mengedepankan kepentingan publik.

Menjaga Kualitas Informasi di Tengah Ledakan Media Sosial

Tantangan industri pers ke depan, menurut Firdaus, bukan hanya soal bagaimana media mendapatkan perhatian masyarakat. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan publik memperoleh informasi yang benar, berimbang, terverifikasi, dan berkualitas.

Di tengah derasnya arus informasi media sosial, media profesional memiliki tanggung jawab untuk menjadi rujukan masyarakat dalam memperoleh informasi yang dapat dipercaya.

“Pers yang kuat lahir dari jurnalis yang kompeten dan perusahaan media yang sehat. Kolaborasi LPP RRI dan SMSI adalah kunci utama menjaga kedaulatan informasi serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Firdaus.

Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kompetensi wartawan, tetapi berkembang menjadi kolaborasi newsroom dan distribusi informasi yang mampu mengangkat berbagai persoalan, potensi, serta aspirasi masyarakat daerah ke tingkat nasional.

Dengan penguatan kompetensi dan kolaborasi antarmedia, transformasi digital diharapkan tidak sekadar melahirkan konten yang cepat viral, tetapi juga memperkuat jurnalisme berkualitas yang akurat, berimbang, independen, dan dapat dipertanggungjawabkan.


Example 300250
Example 300250
Example 300250
Example 300250
Example 300250
Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!